jurnalis

Loading

Selasa, 19 Juni 2012

ANALISIS BIVARIAT


ANALISIS BIVARIAT
A.       Tingkat Pendidikan 3 kategori dengan kadar Hb
1.      Tujuan : Mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dalam 3 kategori dengan kadar Hb ibu
2.     Identifikasi field dalam data base : tingkat pedidikan dalam 3 kategori fieldnya didik3 (variabel independen), dan kadar hb fieldnya Hb (variabel dependen)
3.      Feild didik 3 adalah data kategorik dan kadar hb adalah data numerik
4.      Ujinya adalah uji beda rata-rata
      H0 : tidak perbedaan rata-rata kadar Hb ibu antara berbagai tingkat pendidikan ibu
      Teori yang relevan : Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu, maka semakin baik pula kadar hb ibu
5.      Karena kadar hb adalah data numerik, maka dilakukan uji normality
6.      Dari hasil uji normality didapatkan data berdistribusi tidak normal, uji yang cocok adalah kruskal wallis
7.     Hasil uji kruskall walis didapatka P = 0,00 dan P < 0,05








    Test
  Statistics(a,b)

Kadar HB (g/dl)
Chi-Square
74,041
df
2
Asymp. Sig.
,000







8.    Kesimpulan : H0 ditolak
  ada perbedaan rata – rata kadar hb ibu antara berbagai tingkat pendidikan ibu


B.      Pekerjaan dari Segi Ekonomi dengan IMT Ibu
2.    Tujuan : Mengetahui hubungan antara pekerjaan dari segi ekonomi dengan IMT ibu
3.    Identifikasi field dalam database : pekerjaan dari segi ekonomi fieldnya kerjaeko (variabel independen), IMT ibu fieldnya imti (variabel dependen)
4.    Field kerjaeko adalah data kategorik, dan imti adalah data numerik
5.    Ujinya adalah uji beda rata - rata yaitu Independent Sample T-Test
H0 : Tidak ada perbedaan rata-rata IMT ibu antara berbagai tingkat ekonomi ibu
Teori yang relevan : Semakin tinggi tingkat ekonomi ibu, maka IMT ibu akan semakin baik
6.    Karena IMT adalah data numerik, maka dilakukan uji normality
7.    Dari hasil uji normality didapatkan data berdistribusi normal
8.    Hasil uji anova didapatkan P = 0,00 dan P<0,05
                      
ANOVA

IMT ibu hamil

Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
Between Groups
61,204
1
61,204
14,297
,000
Within Groups
31533,669
7366
4,281


Total
31594,873
7367





9.    Kesimpulan : H0 ditolak
 ada perbedaan IMT ibu antara berbagai tingkat ekonomi ibu
A.       Tingkat Pendidikan 3 kategori dengan kadar Hb
1.      Tujuan : Mengetahui hubungan antara tingkat pendidikan dalam 3 kategori dengan kadar Hb ibu
2.     Identifikasi field dalam data base : tingkat pedidikan dalam 3 kategori fieldnya didik3 (variabel independen), dan kadar hb fieldnya Hb (variabel dependen)
3.      Feild didik 3 adalah data kategorik dan kadar hb adalah data numerik
4.      Ujinya adalah uji beda rata-rata
      H0 : tidak perbedaan rata-rata kadar Hb ibu antara berbagai tingkat pendidikan ibu
      Teori yang relevan : Semakin tinggi tingkat pendidikan ibu, maka semakin baik pula kadar hb ibu
5.      Karena kadar hb adalah data numerik, maka dilakukan uji normality
6.      Dari hasil uji normality didapatkan data berdistribusi tidak normal, uji yang cocok adalah kruskal wallis
7.     Hasil uji kruskall walis didapatka P = 0,00 dan P < 0,05

    Test
  Statistics(a,b)

Kadar HB (g/dl)
Chi-Square
74,041
df
2
Asymp. Sig.
,000







8.    Kesimpulan : H0 ditolak
  ada perbedaan rata – rata kadar hb ibu antara berbagai tingkat pendidikan ibu


B.      Pekerjaan Ibu dengan Tekanan Darah Sistolik
1.    Tujuan : independen variabel adalah pekerjaan ibu dan dependen variabel adalah tekanan darah siatolik
2.    Idenfifikasi field dalam database : pekerjaan ibu nama fieldnya kerja (variabel independen)  dan tekeanan darah diastolik nama fieldnya adalah sistolik (variabel dependen)
3.    Field kerja adalah data kategorik (K) dan field sistol adalah data numerik (N)
4.    H0 pengujian : Uji yang dipakai adalah uji beda rata-rata dimana data kategoriknya lebih dari 2 kategori.
5.    H0: Tidak ada perbedaan rata-rata pekerjaan ibu dengan tekanan darah sistolik
6.    Data numerik dalam kasus ini adalah tekanan darah sistol.
Hasil pengujian normality adalah :
Data berdistribusi Tidak Normal. Bukan Anova tapi Kruskall Wallis
7.    P=0.031
P<0.05
8.    H0 ditolak,
Kesimpulan : ada beda rata-rata antara tingkat pekerjaan ibu dengan tekanan darah sistol.



C.      Pernah atau Tidak Mendapat Tablet Fe Dengan Kadar Hb dalam Darah
1.    Tujuan : Mengetahui hubungan antara pernah atau tidak mendapat tablet Fe dengan kadar Hb dalam darah ibu
2.    Identifikasi field dalam database : Pernah dapat tablet Fe fieldnya pernah (variabel independen), kadar hb dalam darah fieldnya hb (variabel dependen).
3.    Field pernah adalah data kategorik (K) dan field hb adalah data numerik (N)
4.    Ujinya adalah Uji beda rata-rata
Teori yg relevan : Ibu yg dapat table Fe, kadar Hbnya akan lebih baik dari yg tidak dpt tfe
H0 : Tidak perbedaan rata2 kadar Hb ibu dapat dan tidak dapat tablet Fe
5.    Karena Hb adalah data numerik maka dilakukan uji normality.
6.    Dari hasil uji normality didapatkan data berdistribusi normal
7.    Hasil uji anova didapatkan hasil : P = 0,678 dan P > 0,05
                             
ANOVA

Kadar HB (g/dl)

Sum of Squares
df
Mean Square
F
Sig.
Between Groups
,255
1
,255
,172
,678
Within Groups
10914,953
7366
1,482


Total
10915,208
7367





8.    Kesimpulan : H0 diterima
 Tidak ada perbedaan rata2 kadar Hb ibu dapat dan tidak dapat tablet Fe

D.Pekerjaan Ibu dengan Tekanan Darah Diastolik
1.   Tujuan : independen variabel adalah pekerjaan ibu dan dependen variabel adalah tekekanan darah diastolik
2.      Idenfifikasi field dalam database : pekerjaan ibu nama fieldnya kerja (variabel independen)  dan tekeanan darah diastolik nama fieldnya adalah diastole (variabel dependen)
3.      Field kerja adalah data kategorik (K) dan field diastol adalah data numerik (N)
4.      H0 pengujian : Uji yang dipakai adalah uji beda rata-rata dimana data kategoriknya lebih dari 2 kategori.
5.      H0: Tidak ada perbedaan rata-rata pekerjaan ibu dengan tekanan darah diastol
6.      Data numerik dalam kasus ini adalah tekanan darah diastol.
Hasil pengujian normality adalah :
Data berdistribusi Tidak Normal. Bukan Anova tapi Kruskall Wallis
7.      P=0.000
P<0.05
8.      H0 ditolak,
Intervensi :ada beda rata-rata antara tingkat pekerjaan ibu dengan tekanan darah diastol


D.      Pekerjaan Ibu dengan Tekanan Darah Sistolik
1.    Tujuan : independen variabel adalah pekerjaan ibu dan dependen variabel adalah tekanan darah siatolik
2.    Idenfifikasi field dalam database : pekerjaan ibu nama fieldnya kerja (variabel independen)  dan tekeanan darah diastolik nama fieldnya adalah sistolik (variabel dependen)
3.    Field kerja adalah data kategorik (K) dan field sistol adalah data numerik (N)
4.    H0 pengujian : Uji yang dipakai adalah uji beda rata-rata dimana data kategoriknya lebih dari 2 kategori.
5.    H0: Tidak ada perbedaan rata-rata pekerjaan ibu dengan tekanan darah sistolik
6.    Data numerik dalam kasus ini adalah tekanan darah sistol.
Hasil pengujian normality adalah :
Data berdistribusi Tidak Normal. Bukan Anova tapi Kruskall Wallis
7.    P=0.031
P<0.05
8.    H0 ditolak,
Kesimpulan : ada beda rata-rata antara tingkat pekerjaan ibu dengan tekanan darah sistol. 

LANJUTAN.....





Senin, 23 Januari 2012

kisah empat remaja inggris menemukan "kehidupan" dalam islam


Kisah Empat Remaja Inggris Menemukan 'Kehidupan' Dalam Islam
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--Hasil survei terbaru dari Faith Matters menyatakan penyebaran Islam di Inggris lebih cepat ketimbang di negara Eropa lainnya. Per tahun, diperkirakan ada sekitar 5.000 mualaf baru di Inggris, sementara di Jerman dan Prancis jumlah mualaf per tahunnya sekitar 4.000 orang.

Peneliti dari Faith Matters menyurvei tiap masjid yang ada di London. Hasilnya, untuk Kota London saja, selama 2010 ada 1.400 mualaf baru. Ini belum termasuk data dari kota-kota di seluruh Inggris Raya.

Simak pernyataan Hana Tajima (23 tahun) yang bekerja sebagai perancang busana. "Awalnya aku memiliki beberapa teman Muslim saat kuliah. Saat itu aneh saja. Mereka jarang keluar malam, ke klub atau nongkrong," katanya.

"Dan ketika aku mengambil mata kuliah filsafat, aku mulai bingung dengan makna hidupku. Padahal saat itu aku cukup terkenal di kampus. Aku sudah merasa cukup. Tapi aku bertanya, betulkah ini kehidupan yang aku inginkan?" kata Tajima, panjang lebar.

http://peluangusaha-oke.com/wp-content/uploads/2011/08/agama-islam-di-indonesia1.jpg

"Lalu aku membaca literatur tentang Islam dan perempuan. Anehnya, ternyata mereka sangat relevan. Semakin banyak aku membaca, semakin yakin aku terhadap Islam," katanya.

Lain lagi dengan pengalaman Denise Horsley (26) yang bekerja sebagai guru menari. Ia kenal Islam lewat pacarnya. "Saat itu banyak orang bertanya apakah aku menjadi mualaf karena pacaran? Aku jawab tidak! Aku menemukan Islam. Aku tumbuh sebagai penganut Kristen," katanya.

http://www.nizilia.com/wp-content/uploads/2011/11/Kisah-Inspiratif-Islam.jpg

Horsley kini mengenakan jilbab. Ia mengatakan, jilbab adalah konsep penting dalam Islam. "Kerudung ini bukan sekedar pakaian atau tren. Mengenakan jilbab justru menyatakan kejujuran atas diri sendiri dan apa yang akan kau lakukan," katanya.

"Sebenarnya sih, aku masih orang yang sama dengan yang sebelumnya. Cuma aku tidak minum-minuman keras, makan babi, dan sekarang aku shalat lima kali sehari," katanya.

Pengalaman Dawud Beale (23) lebih unik. Sebelumnya, ia adalah pemuda rasis yang menyepelekan Islam. "Lalu aku berlibur ke Maroko. Di situ pertama kali aku berkenalan dengan Islam. Aku akui sebelumnya aku penganut rasis. Tapi sepekan usai pulang dari Maroko, aku memutuskan memeluk Islam," katanya.

Beale bermukim di Somerset. Ketika ia baru-baru menjadi mualaf, sangat sukar menemukan masjid di Somerset, yang memang tidak ada. Ia lalu bertemu dengan rekan-rekan dari Hizb-ut Tahrir, gerakan politik Islam. "Ternyata banyak yang media barat katakan tentang Islam salah," katanya.

http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/04/13036481982006159356.gif
"Aku yakin sudah menemukan jalan hidup yang tepat dalam Islam," katanya lagi.

Sementara Paul Martin (27) mengatakan ia menikmati gaya hidup sebagai muslim. "Awalnya aku berkenalan dengan Islam setelah mengamati gaya hidup teman-teman Muslim. Mereka tampak menikmati betul hidup, tidak merusak tubuhnya. Setelah itu, aku mendalami Alquran," katanya.

Seorang teman Martin lantas mengenalkannya ke seorang tokoh Islam yang berprofesi sebagai dokter. Martin banyak berkonsultasi tentang Islam dengannya. Mereka mengobrolkan Islam di kafe. "Saya mengucapkan dua kalimat syahadat saya di kafe," kata Martin. "Saya tahu banyak yang mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid, tapi bagi saya, Islam bukan sekedar tempat di mana kau percaya pada Allah SWT. Islam adalah tempat di hatimu," katanya.